Ilmu Forensik, Penghadir Silent Witness

Image

Forensik merupakan cabang ilmu dari kriminalistik, yang agak berbeda dengan kriminologi. Walaupun begitu, keduanya mempunyai ruang lingkup yang sama: membahas soal kejahatan. Forensik dipakai untuk membantu penyidikan dalam suatu kasus kejahatan. Hasil analisa forensik tersebut nantinya akan digunakan untuk membantu penyajian data atau bukti dalam pemeriksaan di pengadilan.

Kata forensik berasal dari bahasa Yunani yaitu ’Forensis’ yang berarti debat atau perdebatan. Dalam diskusi ini, maka istilah forensic bisa mempunyai arti sebagai bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakan keadilan melalui proses penerapan sains.
Kenapa ilmu forensik ada? karena dalam suatu peristiwa kejahatan, ada bukti bukti selain saksi hidup, yaitu bukti bukti fisik yang biasa disebut “saksi diam” / silent witness. Silent witness ini bisa mengandung informasi yang sama signifikannya dengan keterangan seorang saksi hidup.

Silent witness atau bukti fisik, bisamemiliki berbagai bentuk. Bisa berupa selongsong peluru, jejak sepatu, bagian tubuh manusia, maupun tanda tangan. Bukti bukti fisik ini tentu tidak akan dengan sendirinya menceritakan apa yang mereka alami layaknya saksi hidup. Diperlukan ilmu forensik untuk “membedah” isi yang tersembunyi di dalam bukti bukti fisik ini, dan dituangkan dalam laporan analisa forensik.

Image

 

Salah satu bidang ilmu forensic yang paling terkenal adalah forensic medicine atau forensik kedokteran. Cabang ilmu ini juga memiliki nama lain, yaitu Medical jurisprudence dan Legal Medicine.Dalam cabang ilmu ini, focus penelitiannya adalah menganalisa aspek aspek medis (termasuk mayat) untuk membantu persoalan hukum. forensik kedokteran mungkin paling populer dikenal oleh masyarakat. Namun yang perlu digaris bawahiadalah bahwa forensik tidak hanya sebatas menganalisa mayat, namun juga menganalisa segala bentuk alat bukti lain yang bisa mengungkap peristiwa kejahatan.

Selain forensik kedokteran, terdapat satu divisi khusus yang juga menarik untuk dibahas yaitu Forensik Tanda Tangan. Bidang ini merupakan cabang ilmu forensic yang mengkhususkan diri pada pembahasan mengenai dokumen, dan tulisan tangan. Bidang Forensik Tanda Tangan ini juga memiliki berbagai sebutan lain, diantaranya adalah Signature Verification, Handwriting Forensic, Handwriting Identification, Document Examination atau bahkan Grafonomi. Dalam ranah kriminalistik, ilmu Forensik Tanda Tangan memiliki beberapa fungsi yaitu:

  • Mengungkap penulis atau pembuat dari suatu tulisan tangan
  • Menganalisis originalitas dari suatu dokumen dan tulisan tangan
  • Jumlah orang yang membuat tulisan tangan dalam suatu dokumen
  • Menganalisis apakah sebuah dokumen pernah diubah atau direkayasa
  • Tipe alat atau instrumen yang digunakan dalam membuat sebuah dokumen atau tulisan

Image

Bidang ilmu ini akan sangat berguna untuk mengungkap kasus kasus kejahatan yang melibatkan suatu dokumen di dalamnya, seperti kasus korupsi, penggelapan, hingga penipuan. Umumnya masalah tentang dokumen memang paling sering terjadi pada kejahatan kerah putih atau white collar crime. Pada kasus kejahatan jalanan atau street crime tertentu juga kadang melibatkan masalah dokumen dan tulisan tangan. Misalkan pada kasus pemerasan dan penculikan dimana pelakunya meninggalkan sebuah ancaman yang ditulis dengan menggunakan tulisan tangan. Tidak hanya berhenti sampai disitu, Forensik Tanda Tangan juga akan sering dipakai pada kasus kasus bunuh diri. Seringkali para korban bunuh diri meninggalkan suicide letter yang menyebutkan tentang alasan kematiannya. Pertanyaannya, apakah surat tersebut benar ditulis oleh sang korban? Mungkinkah surat tersebut justru ditulis oleh orang lain? Dengan bukti yang cukup serta keterangan dari ahli Forensik Tanda Tangan, kasus yang awalnya diduga sebagai bunuh diri, bisa berubah menjadi kasus pembunuhan.

 

Salam

Putro Perdana, S.Sos, CMHA

(Praktisi dan alumnus Kriminologi UI)

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Cegah Kejahatan Pemalsuan Tanda Tangan Dengan Tips Ini

Pemalsuan tanda tangan merupakan tindak kejahatan yang bisa menimpa siapa saja. Kerugiannya tidak main main. Bisa kehilangan harta benda, pekerjaan,reputasi, mencemarkan nama baik, atau memaksa kita untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah kita setujui sebelumnya. Banyak orang yang kehilangan segala hal yang ia sayangi hanya karena tanda tangan miliknya dipalsukan oleh orang lain. Hanya karena tanda tangan. Sekali lagi, hanya karena tanda tangan, seseorang bisa menjadi korban kejahatan yang serius.

Melihat dari berbagai kasus yang saya tangani di lapangan, saya melihat bahwa ternyata ada semacam benang merah tentang celah yang sering dimanfaatkan oleh para pelaku pemalsuan ini. Salah satu celah tersebut adalah; karena sebagian dari kita seringkali membuat tanda tangan yang terlalu mudah untuk dipalsukan.

Untuk saat ini saya belum akan membahas tentang rational choice theory atau occupational crime theory yang menjelaskan mengapa seseorang mau melakukan kejahatan dengan segala kesempatan yang dia miliki. Diskusi tentang hal tersebut akan ditulis lain waktu. Kali ini saya akan membagi pengalaman tentang ciri-ciri tanda tangan yang mudah dipalsukan, serta pencegahannya.

Perhatikan kedua tanda tangan dibawah ini, mana yang lebih mudah dipalsukan?

ImageImage

Tanda tangan A memiliki ciri-ciri:

  1. Terdiri dari sedikit huruf
  2. Mudah terbaca
  3. Terdiri dari 2 tarikan atau lebih
  4. Dibuat dengan sangat pelan
  5. Bentuknya terlalu sederhana

 

Sedangkan Tanda Tangan B memiliki ciri-ciri:

  1. Terdiri dari banyak huruf
  2. Sulit terbaca
  3. Hanya terdiri dari 1 tarikan
  4. Dibuat dengan sangat cepat
  5. Bentuknya sangat kompleks

 

Dalam sudut pandang ilmu forensik tulisan tangan, tanda tangan A akan jauh lebih mudah untuk dipalsukan dibandingkan tanda tangan B. Mengapa? Jawabannya seperti yang disebutkan diatas;

  1. karena tanda tangan A hanya terdiri dari 3 huruf yaitu K-I-M (terlalu sedikit)
  2. mudah terbaca (jelas sekali, Kim!)
  3. terdiri dari 2 tarikan (tarikan ke-1 membentuk huruf “K”, tarikan ke-2 membentuk huruf “i & m”)
  4. Dibuat dengan sangat pelan
  5. Bentuknya sederhana sekali, hampir tidak ada ciri unik dalam tanda tangan tersebut

Apabila diberikan analogi, tanda tangan A hanya ibarat gembok pagar yang mudah dibobol, sedangkan tanda tangan B adalah brankas besi yang memiliki berbagai kombinasi password. Setiap pelaku pemalsuan tanda tangan, tentu akan setuju dengan pendapat saya. Tanda tangan A sangat mudah untuk dipalsukan.

Tanda tangan yang dipalsukan biasanya akan dibuat dengan pelan. Sebab bila sang pelaku membuatnya secara cepat, maka ia akan kehilangan bentuk. Simpelnya seperti ini: pelaku hanya bisa memilih antara speed atau form. Umumnya, mereka akan memilih form dan kehilangan speed. Pelaku pemalsuan akan meniru bentuk tanda tangan semirip mungkin dengan aslinya, namun ia akan kehilangan kecepatan alaminya.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah tanda tangan kita dipalsukan orang lain? Secara garis besar, ini yang bisa saya sarankan:

  1. Buatlah tanda tangan dengan tarikan yang cepat, kompleks dan tegas
  2. Tanda tangan sebaiknya dibuat hanya dalam 1 tarikan
  3. Semakin tanda tangan anda tidak terbaca dan terdiri dari banyak huruf, akan semakin sulit dipalsukan
  4. Tambahkan ornamen unik dalam tanda tangan anda, seperti penggunaan titik, garis bawah, atau apa saja yang bisa menjadi karakteristik tambahan supaya mudah diidentifikasi.
  5. JANGAN memberikan tanda tangan asli untuk berkorespondensi. Buatlah tanda tangan khusus untuk mengirim undangan, menanda tangani absen, ataupun daftar hadir
  6. JANGAN terlalu mudah memberikan fotokopi KTP, SIM, atau kartu identitas yang memuat tanda tangan anda di dalamnya
  7. Gunakan bolpen yang sama dalam menandatangi perjanjian legal. Karakteristik tinta dalam bolpen anda, dapat menjadi ciri khas tambahan

 

Pencegahan kejahatan adalah suatu tanggung jawab yang harus dilakukan oleh setiap individu yang mempelajarinya.

“We prevent crime, based on social justice” – Salah satu Tagline Kriminologi UI

 

Salam,

Putro Perdana, S.sos, CMHA

(Praktisi  dan alumnus Kriminologi UI)

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sejarah Singkat Tulisan Tangan

Perkembangan ilmu tentang tulisan tangan atau grafologi, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan tentang tulisan tangan itu sendiri. Bentuk tulisan seseorang sangat tergantung dari budaya  yang dimilikinya sejak lahir. Hal inilah yang menyebabkan tulisan tangan seseorang memiliki karakteristik yang unik dan bisa digunakan sebagai bukti atau evidence di dunia forensik.

Bagaimana perkembangan sejarah tentang tulisan sehingga setiap budaya di dunia memiliki karakteristiknya masing masing? Berikut adalah sedikit ulasan yang penulis dapatkan dari berbagai literatur tentang sejarah tulisan tangan.

Menulis adalah suatu bentuk penyampaian pesan terhadap ide yang tadinya bersifat abstrak, menjadi bentuk yang lebih permanen. Ide tadinya yang bersifat abstrak, diterjemahkan oleh manusia melalui coretan termasuk gambar dan tulisan tangan.

Tulisan tangan merupakan hasil evolusi pikiran manusia untuk beradaptasi terhadap kebutuhan komunikasi yang lebih kompleks. Ketika manusia mulai memiliki kebutuhan untuk mengkomunikasikan ide-idenya di tempat yang berbeda.

Komunikasi yang awalnya dalam bentuk lisan, hanya mampu mengkomunikasikan ide di satu tempat yang sama antara pembicara dan pendengar. Dengan adanya tulisan, manusia jadi mampu untuk menyampaikan idenya tanpa harus berada di tempat yang sama dengan pembacanya. Dari situlah kemudian tulisan semakin berkembang, dan mengalami perkembangan yang unik di setiap budaya di dunia.

Masyarakat primitif sudah mulai mengembangkan ide tentang tulisan melalui coretan coretan di dinding goa. Berbagai ukiran pada batu, maupun pada kayu, sudah digunakan oleh masyarakat primitif sebagai media komunikasi simbolik. Lambat laun coretan coretan berupa gambar gambar tersebut, secara gradual menjadi lebih terkonsep dan berkembang menjadi gambar simbolik yang bertindak sebagai ‘huruf’.

(Coretan Primitif Pada Dinding Goa)

Image

 

Gambar simbolik ini, dikenal dalam sejarah sebagai ideograph. Ideograph digunakan di berbagai kebudayaan seperti sumeria, cina, aztec, maya, dan juga mesir. Dari berbagai ideograph ini, salah satu yang paling terkenal dalam sejarah adalah milik bangsa mesir, yang disebut sebagai hieroglyphics

(hieroglyphics).

Image

 

 

Gambar berkembang menjadi simbol, simbol berkembang menjadi silabel. Silabel berkembang menjadi phonograph. Phonograph ini kemudian dibuat menjadi lebih simpel sebagai phonetic symbols, yang disebut sebagai phonetic alphabet. Bangsa sumeria diakui sebagai kebudayaan yang mengembangkan alfabet pertama, yang kemudian dikembangkan dan disebarkan berbagai kebudayaan lain.

Asal kata ‘alfabet’ sendiri berakar dari bangsa Yunani. Bangsa yunani memiliki sejumlah huruf, dimana huruf pertamanya yaitu alpha dan huruf keduanya adalah beta, dari situlah kata alfabet muncul. Alfabet Yunani memiliki 24 huruf, termasuk didalamnya adalah huruf huruf vokal pertama yang dikenal manusia. Arah penulisan bangsa Yunani (writing direction) adalah dari kiri ke kanan, yang agak berbeda dengan writing direction bangsa Phoenician yang dari kanan ke kiri.

(Alfabet Bangsa Yunani)

Image

 

Bangsa Romawi, meminjam sebagian alfabet milik yunani. Bangsa romawi kemudianmempopulerkannya dengan ciri khas tulisannya yaitu huruf huruf terpisah (disconnected capital letter). Huruf huruf milik bangsa Romawi dikenal lebih sederhana dan lebih mudah untuk ditiru dan digunakan sebagai acuan huruf dalam berbagai manuscript kuno.

Saat ini pengaruh dari alfabet alfabet awal yang berasal dari Romawi dan Yunani, masih bisa dilihat pengaruhnya di berbagai negara Eropa, dan Amerika. Negara negara di Amerika Utara dan Amerika Selatan, memiliki basis alfabet dari Germanic system. Germanic system itu sendiri, diperoleh dari alfabet bangsa Romawi.

Pengaruh Germanic system di era penulisan modern:

  1. Tulisan pada bahasa Inggris (English) di Amerika Serikat dan Kanada.
  2. Bahasa Spanyol (Spanish) di Amerika Tengah dan Amerika Selatan
  3. Bahasa Portugis (Portuguesee) di Brazil
  4. Bahasa Prancis (French) di provinsi Quebec di Kanada.

(Alfabet Fraktur Pada Germanic System)

Image

 

Huruf huruf alfabet dari Yunani juga masih digunakan di beberapa negara, salah satunya adalah negara Yunani itu sendiri. Huruf alfabet yang kini digunakan bangsa Rusia dan negara-negara Eropa Timur, yaitu huruf Cryillic, juga berakar dari alfabet Yunani.

(Huruf Cyrillic bangsa Rusia)

Image

 

Selain tulisan dengan huruf terpisah, dikenal juga tulisan sambung atau cursive writing. Jenis tulisan ini dikembangkan pada tahun 1552 oleh warga negara italia yaitu Ludovico Arrighi. Arrighi mempopulerkan tulisan bersambung ini dan menyebutnya sebagai italic style. Kata italic sendiri berasal dari kata Italia, dimana jenis tulisan dengan gaya italic ini pertama kali digunakan di negara tersebut. Pada masa dewasa ini, istilah italic lebih dikenal sebagai gaya penulisan dengan kemiringan ke kanan (right slant). Gaya penulisan italic yang bersambung adalah cikal bakal tulisan modern yang digunakan saat ini di berbagai negara Eropa, termasuk Indonesia.

(Tulisan Sambung atau Cursive Writing)

Image

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Wajarkah Bentuk Tulisan Tangan Berubah-ubah?

handwriting change

Seringkali seseorang merasa heran ketika melihat bentuk tulisan tangannya yang cenderung berubah-ubah dari waktu ke waktu. Jangankan bentuk tulisan tangan, bentuk tanda tangan pun kerap berubah walaupun dibuat pada hari yang sama. Perubahan bentuk tanda tangan biasanya akan disadari ketika sedang diminta menandatangani suatu dokumen di bank. Apabila pihak teller melihat bentuk tanda tangan anda tidak sama dengan database yang ada, ia akan meminta anda untuk menandatangani ulang dokumen tersebut. Hal ini merupakan contoh sehari hari, yang menunjukan bukti bahwa bentuk tulisan dan tanda tangan kita ternyata bisa berubah pada situasi tertentu. Apakah hal ini normal?

Manusia memiliki psikologi yang dinamis, dan selalu beradaptasi dengan keadaan hidupnya. Berubahnya bentuk tulisan seseorang, dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya pada saat itu. Dalam ilmu grafologi, disebutkan bahwa tulisan tangan merupakan representasi dari gambaran karakteristik penulisnya. Tulisan tangan sebagai cerminan psikologis seseorang, akan terus berubah mengikuti perkembangan psikologis yang terjadi di dalam dirinya. Merupakan suatu hal yang wajar jika seseorang memiliki tulisan tangan yang berbeda beda pada situasi tertentu.
Tulisan tangan antara seseorang yang sedang depresi akan berbeda dengan tulisannya ketika sedang bahagia. Gejolak emosi yang mempengaruhi psikologis seseorang, juga akan mempengaruhi bentuk tulisan tangannya. Coba perhatikan bentuk tulisan anda ketika sedang merasa senang, pasti akan berbeda dengan bentuknya dengan ketika menulis dalam keadaan marah. Ketika sedang marah, biasanya bentuk tulisan seseorang akan menjadi lebih tajam huruf-hurufnya. Tekanan tulisan juga cenderung akan lebih dalam dibanding biasanya. Tekanan tulisan ini dipengaruhi oleh gejolak energi agresif yang disebabkan oleh kemarahan. Itulah sebabnya secara tidak sadar, ketika anda menandatangani suatu dokumen dalam keadaan tertekan, bentuk tanda tangannya akan cenderung lebih tajam. Hal ini juga menjelaskan mengapa bentuk tulisan anda saat terburu-buru, memiliki bentuk yang berbeda dengan saat tenang. Perubahan seperti ini biasanya terlihat ketika anda sedang mengerjakan ujian. Ketika sudah memasuki detik-detik terakhir pengumpulan jawaban, maka bentuk tulisannya akan lebih berantakan. Perasaan terburu-buru ini dipicu oleh rasa ketakutan karena dikejar oleh tenggat waktu. Adanya ketakutan ini membuat jalan pikiran anda dipenuhi kecemasan. Ketakutan dan kecemasan inilah yang kemudian mempengaruhi bentuk tulisan anda. Perubahan gejolak emosi sekecil apapun, akan muncul pada tulisan tangan. Namun perubahan bentuk tulisan yang seperti ini sifatnya sementara, karena hanya mengikuti suasana hati penulisnya.

Ada faktor lain yang mempengaruhi bentuk tulisan tangan secara permanen. Dalam grafologi dijelaskan bahwa faktor perkembangan psikologis dan perubahan perilaku, juga akan mempengaruhi keseluruhan kualitas tulisan. Sadarkah anda, bahwa pada saat di Sekolah Dasar, kita semua diajarkan untuk menulis dengan bentuk huruf yang sama.. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, ada materi tentang cara menulis indah / menulis tegak bersambung. Uniknya, walaupun setiap siswa di Indonesia Raya ini diajarkan cara menulis yang sama, namun tidak ada satupun diantara kita yang memiliki bentuk tulisan yang sama persis.

Coba perhatikan tulisan anda semasa SD. Bandingkan bentuknya dengan tulisan anda sewaktu SMA. Lalu bandingkan lagi dengan bentuk tulisan anda pada saat ini. Anda akan melihat bahwa bentuk tulisan anda pada saat SD dan masa SMA cenderung berbeda jauh. Tentunya selain bentuk tulisan, anda juga sadar bahwa perilaku anda semasa SMA pastinya akan lebih dewasa dibanding sewaktu SD, bukan? Perubahan tulisan tersebut mencerminkan perubahan perilaku yang anda alami.Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa psikologis manusia sangatlah dinamis. Karakter diri seseorang akan terus berkembang sesuai dengan konflik hidup yang dihadapinya. Konflik hidup yang dihadapi setiap orang, tentu tidak akan sama. Itulah sebabnya perkembangan karakter diri setiap individu juga akan berbeda. Perubahan perilaku ini, akan terekam melalui bentuk tulisan tangan setiap penulisnya. Hal ini menjelaskan mengapa tulisan tangan setiap orang tidak ada yang identik, sekalipun kita diajarkan cara menulis yang sama. Tulisan tangan adalah identitas psikologi yang dimiliki setiap penulisnya.

(Putro Perdana, 2013)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tulisan Tangan Dapat Merekam Keinginan Bunuh Diri

Image

Bunuh diri merupakan masalah psikologi serius yang bisa terjadi pada orang orang yang mengalami depresi berat. Seringkali bunuh diri terjadi karena seseorang yang sedang depresi, tidak bisa mengungkapkan masalahnya kepada orang lain. Kesulitan untuk mengungkapkan depresinya ini, membuatnya menjadi semakin menumpuk permasalahan hidupnya. Akibatnya pada titik tertentu, ia akan sampai pada batas kemampuan dirinya dalam menahan masalah, dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Tragedi bunuh diri pada orang disekeliling kita, sebetulnya bisa dicegah. Namun isu ini dianggap terlalu sensitif untuk ditanyakan kepada orang yang sedang mengalami depresi. Tidak semua orang yang sedang dilanda depresi berat, mau menceritakan secara verbal tentang masalahnya. Lalu bagaimana cara agar kita mengetahui apakah orang yang kita sayang mempunyai potensi untuk melukai dirinya sendiri? Ternyata keinginan bunuh diri bisa dideteksi melalui tulisan tangan seseorang. Ilmu ini merupakan salah satu studi yang dipelajari dalam grafologi. Bahkan studi tentang analisa keinginan bunuh diri melalui graologi ini sudah diteliti secara ilmiah. Penelitian ilmiah ini dipublikasikan melalui “International Journal of Clinical Practice”. Penelitannya dilakukan sebagai berikut:

2 orang dengan profesi grafolog dan 2 orang yang berpofesi sebagai dokter kejiwaan, diminta menganalisa 80 tulisan tangan. Dari 80 tulisan tangan tersebut, terdapat 40 tulisan dari orang orang yang pernah mencoba bunuh diri, dan 40 tulisan dari orang orang normal. Isi dari 80 tulisan tersebut tidak ada hubungannya dengan bunuh diri sama sekali. Para peserta hanya diminta menuliskan tentang memori mereka semasa kecil. Setiap tulisan tersebut juga diminta untuk ditandatangani oleh penulisnya. Berbekal 80 tulisan tersebut, kedua grafolog dan kedua dokter tersebut, diminta untuk menentukan tulisan mana saja yang ditulis oleh orang yang pernah mencoba untuk bunuh diri.

Hasilnya para grafolog berhasil mencapai tingkat akurasi analisa sebesar 73%. Sedangkan para  dokter, hanya mendapatkan tingkat akurasi analisa sebesar 53%. Perlu diketahui bahwa kedua grafolog tersebut tidak memiliki latar belakang kedokteran jiwa. Begitu juga dengan kedua dokternya, mereka tidak memiliki kemampuan grafologi. Sehingga, walaupun perbedaan akurasinya tidak terlalu jauh, namun dari penelitian ini bisa terlihat bahwa ilmu grafologi dapat digunakan  menganalisa keinginan bunuh diri secara akurat. Hasil kesimpulan dari penelitian ini membuat grafologi semakin banyak digunakan di beberapa institusi kejiwaan dan institusi kesehatan, untuk mencegah terjadinya bunuh diri. Karena sejauh ini, tidak banyak alat analisa psikologi yang dapat digunakan untuk memprediksi keinginan bunuh diri. Di sisi lain, grafologi dianggap cukup sederhana untuk dilakukan kepada para pasien. Grafologi hanya membutuhkan tulisan tangan dan cerita akan memori tentang masa kecil. Tidak perlu mengerjakan sejumlah pertanyaan kompleks, yang kadang sulit dipahami oleh para pasien yang sedang depresi.

Mengapa memori tentang keinginan bunuh diri dapat dideteksi oleh grafologi? Ketika seorang individu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, terjadi suatu pengalaman psikologis yang luar biasa di dalam dirinya. Memori akan keinginannya mengakhiri hidup, akan terekam di dalam alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar mempengaruhi berbagai hal dalam hidup seseorang. Mulai dari cara pandang terhadap hidup, cara berjalan, gaya bicara, hingga bentuk tulisan. Tulisan tangan merupakan salah satu cerminan  dari alam bawah sadar seseorang. Setiap orang memiliki karakter psikologis, dan alam bawah sadar yang unik. Itulah sebabnya masing masing individu di dunia ini memiliki tulisan tangan dengan karakteristik yang berbeda beda. Berbagai pengalaman dan memori yang mempengaruhi psikologis seseorang, akan terlihat dari tulisan tangannya. Termasuk pengalaman dan memori akan percobaan bunuh diri yang pernah dilakukan oleh seorang individu.

Menurut ilmu grafologi, memori tentang masa kecil adalah memori yang paling mempengaruhi psikologis seseorang. Dengan menuliskan tentang memori penulisnya sewaktu kecil, akan dapat terlihat bagaimana karakter dirinya yang sesungguhnya. Karena dari memori di masa tersebut, akan muncul tanda tanda tentang pengalaman traumatik, ataupun masalah di masa lalu yang belum dilepaskan oleh penulisnya. Sehingga apabila ada keinginan untuk menyakiti diri sendiri, itu disebabkan karena adanya kesulitan dalam menyelesaikan konflik batin yang terjadi di masa lalu. Hal inilah yang kemudian dapat mempengaruhi cara pandang penulisnya terhadap masalah hidup. Ketika seorang individu terbiasa mengabaikan masalah hidupnya, akan mempengaruhi alam bawah sadarnya. Permasalahan yang terus ditumpuk di alam bawah sadar seseorang, dapat mendorongnya untuk melukai dirinya sendiri. Ketika seseorang ingin menyakiti dirinya, akan muncul tanda tanda tertentu dari tanda tangannya. Salah satunya adalah tanda tangan yang dibuat dengan mencoret nama sendiri. Dalam grafologi, tanda tangan merupakan gambaran bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain. Sedangkan tulisan tangan adalah karakter diri yang sesungguhnya.  Sehingga ketika seseorang membuat tanda tangan dengan mencoret nama sendiri, menandakan bahwa ia merasa kecewa dengan dirinya. Kekecewaan yang mendalam terhadap diri sendiri, serta pengalaman traumatik di masa lalu, dapat mendorong seseorang untuk menyakiti dirinya.

(Putro Perdana, 2

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Grafologi, Grafonomi, dan Handwriting Forensic

Dalam beberapa diskusi tentang grafologi, seringkali muncul pertanyaan “apakah ilmu Handwriting Forensic sama dengan grafologi?”. Kedua ini ilmu ini pada dasarnya adalah disiplin ilmu yang sedikit berbeda, namun memiliki kesamaan. Dalam ilmu tentang tulisan tangan atau Handwriting Analysis itu sendiri, dikenal 3 cabang disiplin ilmu, yaitu Grafologi, Grafonomi, dan Handwriting Forensic.. Masing masing cabang ilmu memiliki perbedaan, meskipun dalam prakteknya menggunakan objek yang sama, yaitu sebuah dokumen atau tulisan.

Image

1. Grafologi

Grafologi adalah sebuah studi untuk mengungkap kepribadian dan karakter seseorang berdasarkan tulisan tangannya. Grafologi merupakan bagian kecil dari Handwriting Forensic, dan sebaiknya tidak disamakan antara satu sama lainnya (Allan Jamieson, 2009:278).  Kata Grafologi itu sendiri memiliki definisi sebagai studi tentang kepribadian seseorang melalui tulisan tangannya. Perlu diperhatikan bawa analisis ilmiah yang dilakukan oleh seorang ahli tulisan, merupakan suatu hal berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan oleh graphologist. Seorang graphologist dalam pekerjaannya ketika menganalisis tulisan, bertujuan untuk menemukan informasi mengenai sifat, kepribadian, dan karakter penulisnya. (Andrew R.W Jackson, 2011:347).

Di Indonesia, grafologi sudah cukup berkembang penggunaannya. Mulai dari untuk keperluan recruitment, hingga untuk masalah investigasi kejahatan. Mabes Polri sendiri pernah mengemukakan untuk menggunakan grafologi sebagai salah satu alat tes dalam izin penggunaan senjata api. Berita lengkap tentang hal itu bisa dibaca disini: http://bit.ly/Z4YLQm.

Grafologi lebih mengkhususkan pada analisa psikologi dalam tulisan tangan. Sehingga, ahli ahli grafologi biasanya dapat diminta untuk membantu investigasi kasus kejahatan. Analisa grafologi akan sangat berguna dalam analisa surat bunuh diri. Seorang ahli grafologi akan dapat mengetahui faktor psikologis apakah yang membuat korban tertekan hingga melakukan tindakan bunuh diri. Selain itu, ahli grafologi juga dapat menggunakan kemampuannya untuk menganalisa kebohongan dalam suatu pernyataan tertulis. Teknik ini disebut juga handwriting lie detection, yang telah saya tulis di artikel sebelumnya.

 2. Grafonomi

Menurut Amri Kamil dalam bukunya “Mengenal dan Mempelajari Anatomi Grafonomi Berkatian dengan Kejahatan Pemalsuan Dokumen”, Grafonomi adalah suatu ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari dari goresan-goresan tulisan dalam sebuah tanda tangan. Grafonomi berasal dari kata grafis dan nomi, yang berarti pengetahuan tulisan, sehingga hasil goresan setiap individu dapat dipelajari secara ilmiah berdasarkan karakteristik tulisan/goresan yang ada. (Kamil: 2007)

Grafonomi mengkhususkan diri pada identifikasi tanda-tangan, tulisan tangan, tulisan ketik, cap stempel, barang cetakan/blanko, isi dokumen, dokumen secara keseluruhan. Kriteria karakter tulisan yang dipelajari dari Grafonomi adalah tarikan, tekanan, kelancaran, halus kasar, tempat perubahan arah tarikan, tarikan akhir, kebiasaan dan aksesorinya.

Dari definisi dan ruang lingkup (cakupan) Grafonomi, maka ilmu ini hanya mengungkap originalitas dari suatu dokumen dan aksesori / tambahan yang ada didalamnya.

Di Indonesia, teknik grafonomi ini digunakan secara intensif oleh Laboraturium Forensik Mabes Polri. Grafonomi seringkali digunakan oleh kepolisian untuk menganalisa kasus dugaan pemalsuan tanda tangan. Salah satu tokoh dalam bidang grafonomi di kepolisian adalah Kombes Pol. Amri Kamil yang telah menuliskan beberapa buku tentang bidang ini.

Image

3. Handwriting Forensic

Istilah Forensic memiliki arti sederhana, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum. Handwriting Forensic sebagai bidang studi ilmiah yang mengidentifikasi pemalsuan dan mengungkap kisah asli (original) dari dokumen yang menjadi objek sengketa di pengadilan.

Dalam prakteknya, Handwriting Forensic mengkombinasikan ilmu Grafologi dan Grafonomi dalam menangani kasus kejahatan. Ilmu Grafologi dipergunakan khususnya dalam mengemukakan adanya atau kecenderungan dari penulis untuk melakukan perbuatan menyimpang (fraud). Biasanya hal yang dapat diungkapkan adalah: identifikasi mengenai apakah seseorang memiliki kecenderungan menggunakan obat-obatan, apakah seseorang memanipulasi suatu kejadian tertentu, dan masih banyak lagi. Sedangkan ilmu Grafonomi lebih banyak digunakan untuk mengidentifikasi pemalsuan suatu dokumen (forgery).

Menurut Koppenhaver, dalam bukunya “Attorney’s Guide to Document Examination”, Handwriting forensic memiliki beberapa fungsi yaitu:

  • Mengungkap penulis atau pencipta dari suatu dokumen
  • Menganalisis originalitas dari suatu dokumen
  • Jumlah orang yang membuat suatu dokumen
  • Menganalisis apakah sebuah dokumen pernah diubah
  • Tipe alat atau instrumen yang digunakan dalam membuat sebuah dokumen atau tulisan

Dari penjelasan tentang ketiga cabang ilmu tersebut, dapat dilihat bahwa sebenarnya antara satu sama lain masih memiliki benang merah. Karena pada dasarnya ketiga cabang ilmu tersebut merupakan bagian dari Ilmu Handwriting Analysis. Hanya saja terkadang penggunaannya dalam lingkup bidang yang berbeda. Grafologi lebih banyak dipakai di bidang psikologi. Grafonomi dan Handwriting forensic lebih dikembangkan di bidang investigasi kejahatan.

(Putro Perdana, 2013)

.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Menganalisa Kebohongan Lewat Tulisan (Bagian 2)

Image

Serial TV Lie to Me, saat  ini sedang ramai diperbincangkan oleh beberapa pemerhati masalah kriminal karena metode investigasi yang digunakan dalam film ini. Dalam film Lie to Me, diceritakan bahwa para investigatornya mampu menganalisa kebohongan lewat expresi mikro atau micro-expression. Walaupun film ini yang dibuat secara fiksi, namun teori teori tentang micro-expression tersebut benar benar telah terbukti secara nyata di lapangan.

Dalam grafologi, saya menemukan bahwa kebohongan itu, selain bisa terlihat dari expresi wajah dan gerak tubuh, juga ternyata bisa terlihat melalui tulisan tangan.

Menganalisa kebohongan melalui tulisan tangan, tentunya akan sangat berguna di dunia kriminalistik. Sebagaimana juga diungkapkan oleh Mustofa (2007) yang menyebutkan bahwa dalam kriminalistik, di dalamnya, terdapat metode grafologi. Seperti yang telah saya tulis di bagian I, bahwa ketika seseorang berbohong akan muncul tanda tanda unnatural behavior atau ketidak alamian perilaku. Dari ketidak alamian perilaku ini, kita akan dapat membedakan mana keterangan yang ditulis secara jujur, dan mana yang telah dimanipulasi.

Perlu diperhatikan, bahwa untuk menyimpulkan apakah suatu tulisan itu ditulis secara jujur atau sudah dimanipulasi, tidak bisa ditentukan dari 1 indikator saja (Karohs, 2003). Namun perlu dianalisa keseluruhan tulisan, dan dicari juga indikator indikator lainnya. Hal ini supaya tidak berdampak pada pengambilan kesimpulan yang salah. Keseluruhan indikator yang muncul, harus saling dikonfirmasi dan dievaluasi.

Untuk mendekteksi ketidakjujuran dalam suatu tulisan tangan, menurut Dwikardana (2010) terdapat beberapa kejanggalan yang mencirikan ketidakjujuran seseorang yang sedang berbohong ketika menulis, yakni:

1. Beberapa kalimat yang ditulis dengan kecepatan yang pelan. Apabila dalam beberapa kalimat tertentu terlihat adanya perubahan kecepatan tulisan, menunjukan penulis berhati hati dan memperhitungkan respon dari apa yang akan dituliskannya.

2. Tulisan yang berantakan dan tidak terbaca, menandakan bahwa penulis tidak berusaha mengkomunikasikan pikirannya secara jelas, ataupun sedang memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Perbaikan huruf huruf atau coretan yang cukup sering terjadi menunjukan penulis dalam keadaan gelisah dan mencoba untuk memberi kesan baik dengan memperbaiki setiap kesalahan yang terjadi akibat kegelisahannya.

Contoh:

Image

3. Garis dasar tulisan yang bervariasi, menunjukan bahwa adanya emosi yang berubah ubah pada saat tulisan dibuat. Perhatikan pada kata kata apa saja garis dasarnya naik atau turun secara signifikan, karena biasanya disaat itulah penulis merasakan gejolak emosi.

Contoh:

Image

4. Kesalahan penulisan yang terus menerus, hal ini disebabkan karena penulis dalam keadaan gelisah, sehingga pada saat ia menulis, ia memikirkan sesuatu yang lain.

Contoh:

Image

5. Ukuran huruf yang berubah, menunjukan penulis sedang menambahkan konsentrasi untuk baris atau kata tertentu. Ukuran yang semakin besar pada huruf tertentu, menunjukkan penulisnya kehilangan fokus pada kata tersebut. Sedangkan ukuran yang mengecil pada huruf tertentu, menunjukkan penulisnya berusaha untuk lebih berkonsentrasi pada kata tersebut.

Contoh:

Image

6. Bentuk huruf yang berbeda beda, menunjukkan ketidakstabilan emosi dan pemikiran dari penulis yang bersangkutan.

Contoh:

Image

7. Penggunaan tanda baca yang tidak wajar, seperti titik atau koma yang dibuat berlebihan, biasanya disebabkan karena menulis meletakkan ballpointnya ketika sedang merasa ragu dengan apa yang ia tuliskan.

8. Hilangnya bagian bagian huruf yang menyebabkan tulisan tidak terbaca. Serta Hhlangnya beberapa huruf dalam kata kata yang penting. Hal ini menandakan ada upaya untuk mengalihkan perhatian dari kata kata yang dianggapnya penting, karena enggan untuk memberikan informasi yang jelas.

Contoh:

Image

9. Jarak antar kata yang tidak stabil. Menunjukkan penulis tidak spontan dalam menulis sehingga memerlukan banyak waktu untuk berpikir, dan hal tersebut menyebabkan jarak antar spasi yang tidak teratur.

Contoh:

Image

10. Perubahan kemiringan tulisan yang cukup sering, menunjukkan adanya konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar penulis ketika menuliskan pernyataan tersebut.

Contoh:

Image

Dari beberapa kejanggalan diatas, dapat diidentifikasi kejujuran suatu informasi yang ditulis oleh tersangka. Apabila terdapat banyak sekali kejanggalan yang muncul, maka besar kemungkinan pernyataan yang ditulis adalah informasi yang tidak jujur maupun sudah dimanipulasi. Melalui pernyataan tertulis tersebut, selain dapat  memperoleh keterangan tertulis yang bisa  diajukan pada saat proses pengadilan, juga dapat digunakan untuk menekankan pertanyaan kepada tersangka, terkait dengan kejanggalan yang muncul pada pernyataan tersebut.

(Putro Perdana, 2013)

Sumber Referensi:

1. Erika M. Karohs, Ph. D., Ed. D. 2003. How to Tell (Dis)Honesty From Handwriting Pebble Beach, California

2. Dwikardana, Sapta. 2010. Graphology: the Basic Course. Authentic School of Graphology Training, Consulting, & Counseling Service. Tidak Diterbitkan.

3.  Mustofa, Muhammad. 2007. Kriminologi: Kajian Sosiologi terhadap Kriminalitas, Perilaku Menyimpang, dan Pelanggaran Hukum. Depok: FISIP UI Press.

Leave a comment

Filed under Uncategorized