Psikologis Afriyani Dari Sudut Pandang Grafologi

Majalah Ungkap. Edisi Februari 2012

Analisa Grafologi Putro Perdana Jelaskan Psikologis Afriyani

Tragedi Tugu Tani 22 Januari 2012 lalu tidak dapat dipungkiri memiliki efek yang cukup besar pada masyarakat luas. Kecelakaan yang memakan korban 13 orang ini berakhir dengan total korban yang tewas 9 orang dan sisanya menderita luka-luka.
Afriyani Susanti adalah pengemudi Xenia hitam dengan nomer polisi B 2479 XI ini adalah tersangka utama yang lalai dalam berkendara. Pengaruh narkoba juga ditemukan setelah para penghuni mobil ini melakukan cek urin, sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaku sedang dalam keadaan dibawah pengaruh narkoba ketika menabrakan mobilnya.
Reaksi sosial masyarakat segera dapat dilihat pasca kecelakaan Xenia maut tersebut, caci dan hujatan yang diutarakan kepada pelaku penabrakan bermuculan dengan berbagai variasi. Bahkan saat ini sudah terdapat aksi gerakan di media sosial Facebook yang menyerukan “Gerakan 1.000.000 dukung Hukum mati Apriani Susanti” untuk mendukung hukuman mati bagi pelaku tabrakan di Tugu tani tersebut.
Masyarakat yang memberikan reaksi tetentunya juga didasarkan pada reaksi Afriyani yang terlihat tetap sanati walau sudah menabrak 13 orang dan mengakibatkan 9 orang diantaranya tewas. Namun berbeda dengan analisis ahli grafologi terkait dengan kondisi Afriyani yang terlihat santai dan tidak merasa bersalah tersebut. Melalui tulisan tangan Afriyani dalam surat permintaan maaf kepada keluarga korban, salah satu pakar Grafologi Indonesia Putro Perdana pun angkat bicara.

Apa itu Grafologi?
Grafologi merupakan sebuah ilmu untuk menganalisa kepribadian seseorang melalui tulisan tangannya. Seperti halnya sidik jari, tulisan tangan setiap orang memiliki keunikan dan ciri khas. Hal ini dikarenakan tulisan tangan yang ditulis merupakan hasil proyeksi dari otak manusia. Sehingga muncul istilah dalam studi grafologi bahwa tulisan tangan merupakan tulisan otak. Melalui grafologi tulisan tangan dapat dianalisa untuk mendeskripsikan perilaku dan kepribadian seseorang, termasuk diantaranya adalah mendeteksi kecenderungan melakukan tindakan agresif, cara berpikir, hingga pendeteksian ketidakjujuran.
Perkembangan grafologi sendiri di Indonesia belum terlalu banyak dikenal, hanya pihak kepolisian seperti Lab forensic saja yang menggunakannya secara aplikatif untuk mengetahui keaslian tanda tangan. Sejak dahulu, laboratorium forensik sudah memiliki beberapa ahli di bidang grafonomi, salah satunya adalah Kombes Pol. Amri Kamil. Beliau telah menulis sebuah buku tentang “mengenal dan mempelajari grafonomi berkaitan dengan kejahatan pemalsuan dokumen”. Buku ini telah digunakan oleh berbagai kalangan penegak hukum untuk menjadi rujukan dalam kasus kejahatan forgery. Grafologi mulai berkembang di Indonesia sejak pertengahan tahun 2000. Doktor Sapta Dwikardana seorang Certified Master Handwriting Analyst mengajarkan grafologi melalui lembaga yang dibentuknya yaitu Authentic School of Graphology di Indonesia.
Dalam dunia kejahatan, termasuk kriminologi, Grafologi juga memiliki keterkaitan karena dapat membantu dalam penyelidikan sebuah tindak pidana pemalsuan tanda tangan maupun menggambarkan psikologi pelaku tindak pidana, serta kejujurannya. Seorang Professor dari kriminologi, Muhammad Mustofa juga menyebutkan bahwa dalam ilmu kriminalistik – ilmu pengetahuan yang dipergunakan untuk menyelidiki terjadinya suatu peristiwa kejahatan, terdapat metode grafologi didalamnya.

Grafologi dan Pengguna Narkoba
Pengguna Narkoba aktif dalam dunia grafologi memiliki ke-khas-an sendiri. Karakter tulisan pecandu narkoba memiliki kecenderungan tulisan yang menyerupai tongkat pemukul atau dalam grafologi disebut clubbed strokes. Apabila seseorang memiliki jenis tulisan seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa ia pecandu narkotika. Karakteristik clubbed stroke ini hanya ditemukan bila penulis sudah menjadi pecandu, sudah teradiksi dengan narkotika. Namun karakteristik ini tidak akan muncul apabila penulis hanya pengguna narkotik yang tergolong masih baru. Contoh tulisan dengan karakteristik clubbed stroke, yaitu adanya penebalan berbentuk seperti pemukul pada garis vertikal, seperti gambar dibawah ini

dengan demikian maka untuk mempermudah melihat pelaku tindak pidana atau orang yang menggunakan narkoba aktif dapat diidentifikasi dengan karakteristik tulisan clubbed stroke ini.

Analisis Tulisan Tangan Afriyani Susanti
Terkait dengan tkejadian tragis pada tanggal 22 januari lalu dengan kejadian kecelakaan di Tugu tani yang menewaskan 9 nyawa pejalan kaki. Kejadian ini diakibatkan oleh ulah pengendara mobil yang mengemudi dibawah pengaruh alkohol dan narkotik. Masyarakat langsung mengecam kejadian tersebut, dan banyak yang ingin mengetahui tentang kondisi kejiwaan sang pengemudi. Setelah insiden berdarah tersebut, pengemudi langsung ditetapkan sebagai tersangka kejahatan oleh kepolisian. Pengemudi yang bernama Afriyani ini kemudian menuliskan surat pernyataan maaf kepada masyarakat. Surat yang ditulis tangan ini beredar di media-media cetak maupun online. Dalam surat tersebut, Afriyani meminta maaf berkali kali atas perbuatannya.
Ini adalah potongan surat permintaan maaf Afriyani yang diambil dari media online:

Dari tulisan tangan tersebut, dapat dianalisa bahwa penulis memiliki hambatan untuk mengungkapkan ekspresi emosinya. Ada kesulitan dari dalam diri Afriyani untuk mengekspresikan apa yang sedang ia rasakan. Ini mungkin salah satu sebab mengapa Afriyani tidak berekspresi apapun setelah kejadian tabrakan. Dari bentuk garis dasar, serta bentuk huruf kapitalnya juga menunjukan bahwa Afriyani tidak mempunyai emosi yang stabil serta masih belum dewasa. Namun pada tulisan ini tidak ditemukan adanya clubbed stroke yang merupakan karakteristik dari seorang pengguna berat atau pecandu narkoba. Asumsi Putro Perdana sebagai graphologist adalah besar kemungkinan bahwa Afriyani hanya pengguna baru, belum menjadi pecandu. Selain itu, nampaknya Afriyani menggunakan alkohol dan narkoba sebagai bentuk pelarian dari masalah yang tidak bisa ia ungkapkan kepada orang lain. Walaupun begitu, tetap tidak dapat dipungkiri bahwa Afriyani memang terbukti dalam pengaruh alkohol dan narkoba ketika mengemudikan kendaraannya.
Dari analisis tulisan tersebut, solusi secara psikologis yang dapat diberikan kepada pelaku adalah dengan mengubah perilakunya yang masih impulsif dalam bertindak atau gegabah. Solusi ini dapat dilakukan dengan cara melatih diri sang pelaku agar lebih mampu menceritakan masalahnya kepada orang lain. Adanya hambatan untuk mengungkapkan emosi serta menceritakan masalah, membuat pelaku menjadi bertindak impulsif dan mencari pelarian dalam bentuk lain seperti alkohol dan narkotika. Terapi lain yang dapat diberikan untuk mengendalikan emosi serta kontrol diri adalah melalui grapho-therapy. Grapho-therapy ini juga merupakan salah satu kajian dalam studi grafologi. Terapi ini bekerja dengan metode mengubah pola-pola bentuk tulisan, agar nantinya dapat mempengaruhi saraf kejiwaan sang penulis.

(Majalah Ungkap – Narcotic News. Edisi Februari 2012)

Leave a comment

Filed under Graphology in Crime

Comments are closed.