Kejahatan Forgery di Bank (Sebuah Kajian Kriminologi)

Forgery atau pemalsuan tanda tangan merupakan tindak kejahatan yang unik, ia bukanlah kejahatan konvensional seperti street crimes yang dapat dilakukan oleh sembarang orang. Untuk dapat melakukan tindakan forgery, pelaku harus memiliki informasi tentang pola transaksi di bank, bentuk tanda tangan korban, dan jumlah uang dalam rekening korbannya. Uniknya, tidak semua orang memiliki akses untuk bisa mendapatkan informasi tersebut. Hanya individu tertentu dengan status dan kedudukan tertentu yang bisa mengakses informasi yang tergolong dirahasiakan. Dalam kajian kriminologi, tindakan yang memanfaatkan posisi serta jabatan yang legal untuk melakukan kejahatan, dikategorikan  sebagai white-collar crime.  Untuk itu, bisa dipastikan bahwa selalu ada hubungan antara korban dengan pelaku. Bisa hubungan pekerjaan (seperti atasan-bawahan) atau hubungan keluarga (kakak-adik). Karena jarang sekali tindak kejahatan forgery dilakukan oleh random people yang tidak mengetahui tentang informasi keuangan serta bentuk tanda tangan korban. Forgery merupakan tindak kejahatan yang terencana dan memerlukan pengetahuan khusus tentang korbannya.

Modus operandi pelaku forgery saat ini ternyata lebih sering memalsukan tanda tangan pada surat perintah transfer dibandingkan pada cek. Surat perintah transfer dapat dengan segera memindahkan uang dalam jumlah milyaran ke rekening tertentu. Tidak seperti cek yang dalam jumlah penarikannya terbatas hanya beberapa ratus juta saja.

Uniknya, walau kasus forgery sering terjadi di bank, tapi pemberitaan di media tentang tindak kejahatan ini masih sangat minim. Hal ini disebabkan karena bank sangat menjaga reputasi mereka kepada nasabahnya. Dengan mengakui bahwa forgery terjadi berulang-ulang di bank mereka, merupakan pernyataan bunuh diri yang bisa menjatuhkan bisnis perbankan itu sendiri.

Selain itu, dalam mengidentifikasi korban white-collar crime, tidaklah semudah seperti mengidentifikasi kejahatan konvensional. White-collar crime sering juga disebut sebagai victimless crime, dimana korban kejahatannya tidak merasa dirinya sebagai korban. Dalam kasus ini, ternyata bank menganggap diri mereka sebagai korban sekunder dan menganggap bahwa korban utama dari forgery ini adalah nasabahnya.  Secara finansial, bank tidak merasa dirugikan secara langsung. Kecuali kalau nasabahnya menuntut ganti rugi atas uang mereka yang hilang karena forgery. Bank merasa bahwa mereka dirugikan atas kerusakan reputasi yang disebabkan oleh forgery. Tindakan forgery mencederai aset utama mereka yang lebih berharga dari aset finansial, yaitu aset reputational.  Sehingga bank kemudian melihat dirinya hanya sebagai korban tidak langsung dari tindak kejahatan ini.

Walaupun pembahasan tentang forgery masih jarang sekali dibahas oleh bank ke hadapan publik, namun bukan berarti kejahatan ini tidak berusaha dicegah. Bank menyadari tentang bahaya forgery, sehingga mereka melakukan serangkaian tindakan preventif untuk mencegah kejahatan ini terjadi secara berulang-ulang. Salah satunya adalah dengan mengadakan training tentang handwriting analysis.

(Tulisan ini berdasarkan pada penelitian akademis yang dilakukan oleh Putro Perdana pada tahun 2012, dengan judul: “An Illustration of The Ways Bank ‘X’ and Bank ‘Y’ Respond to Forgery Within The Framework of Occupational Crime”)

Leave a comment

Filed under Graphology in Crime

Comments are closed.