Tipe Tipe Pelaku Pemalsuan Tanda Tangan


Pelaku pelaku kejahatan, seringkali dikategorisasi berdasarkan kualitas tindak kejahatannya, dan juga motif dari tindakannya. Dalam Pemalsuan tanda tangan atau forgery, para pelakunya juga memiliki karakteristik khusus yang membuatnya dapat dibedakan antara satu sama lain. Namun uniknya, pelaku kejahatan pemalsuan tanda tangan ini, tindakannya begitu ‘halus’ sehingga kita tidak sadar bahwa tau-tau kita telah menjadi korban kejahatan. Berbeda dengan jenis kejahatan lain seperti perampokan atau pencurian, dimana korban melihat langsung pelakunya dan sadar bahwa dirinya telah menjadi korban.  Banyak sekali korban pemalsuan tanda tangan yang kaget ketika telah kehilangan sejumlah uang di rekening banknya hanya melalui pemalsuan tanda tangan. Karena halusnya tindakan yang mereka lakukan ini, saya menjuluki para pelaku pemalsuan tanda tangan sebagai smooth criminal, seperti salah satu lagu legendaris dari Michael Jackson.

Pada dasarnya, pelaku pemalsuan tanda tangan atau forger, dibagi menjadi 3 tipe:

1. Forger profesional, adalah para kriminal yang secara terlatih memiliki kemampuan untuk mengimitasi tanda tangan orang lain. Kriminal profesional ini secara terorganisir melakukan tindak kejahatan yang menggunakan tanda tangan palsu. Motif dari tindakan kejahatan mereka adalah motif ekonomi dan terkadang politik. profesional ini melakukan kejahatan sudah seperti bisnis, dimana tindakan kriminal tersebut adalah pekerjaannya dan diperjualbelikan selayaknya komoditas. Seringkali dalam tindak kejahatannya, mereka memalsukan tanda tangan orang orang terkenal, seperti para public figure.  Nantinya tanda tangan palsu ini akan dijual dan di klaim sebagai tanda tangan asli. Bisnis tanda tangan para public figure ini, terutama milik atlet baseball dan para pemusik, merupakan salah satu bisnis yang digemari di luar negeri. Professional forger ini akan menjual tanda tangan palsu tersebut melalui situs jual beli online, maupun forum kolektor tanda tangan. Tidak hanya sebatas para public figure, bahkan buku harian adolf hitler, pernah dipalsukan oleh salah seorang forger professional forger. Kasus pemalsuan buku harian ini, merupakan salah satu kasus pemalsuan tulisan yang menggemparkan dunia di tahun 1970. Sejak saat itulah, ilmu forensik tulisan mulai memiliki peran penting dalam menentukan keaslian para tanda tangan tokoh tokoh terkenal. Selain memalsukan tanda tangan tokoh terkenal, ada juga professional forger yang terspesialisasi dalam pemalsuan tanda tangan pada dokumen dokumen berharga. Mereka memalsukan tanda tangan dalam pembuatan ijazah palsu, KTP palsu, maupun sertifikat tanah yang telah diimitasi. Umumnya, professional forger yang seperti ini, telah memiliki peralatan canggih dan kemampuan yang terlatih untuk mengakomodir tindak kejahatan mereka. Di Indonesia, ada beberapa tempat yang khusus menyediakan dokumen palsu untuk dijual kepada publik. Tempat tempat ini memiliki peralatan layaknya percetakan besar dan orang orang yang terlatih dalam memalsukan surat berharga. Ciri utama dari forger profesional adalah; mereka teroganisir dalam melakukan kejahatannya, dan mereka memang dilatih untuk memalsukan tanda tangan. Profesional forger ini banyak ditemukan pada kasus pemalsuan ijazah, pemalsuan KTP dan sertifikat tanah. Mereka tidak hanya sekedar memalsukan tanda tangan, tapi juga keseluruhan dokumen.

2. Tipe yang kedua adalah forger amatir. Bentuk tanda tangan palsu yang dihasilkan oleh para amatir ini, umumnya akan lebih berantakan dan kurang terkonsep. Sangat berbeda dengan hasil pemalsuan dari profesional forger yang lebih rapih dan terlatih dalam pembuatannya. Para FDE  (Forensic Document Examiner – istilah untuk individu yang bekerja di bidang forensik tulisan) akan lebih mudah mendeteksi pemalsuan tanda tangan yang dihasilkan oleh forger amatir, karena adanya perbedaan kualitas yang cenderung buruk. Forger amatir ini seringkali mencuri cek dan dokumen dokumen berharga, untuk nantinya diberi tanda tangan palsu diatasnya. Walaupun mereka yang melakukan tindakannya secara berkala,  namun mereka tidak terlatih seperti profesional forger.  Sehingga para amatir ini umumnya hanya berani memalsukan tanda tangan yang bentuknya simpel dan mudah untuk ditiru. Mereka akan kesulitan dalam meniru tanda tangan yang bentuknya sulit dan kompleks. Dalam mengimitasi suatu tanda tangan, mereka cenderung akan lebih mengutamakan bentuk supaya semirip mungkin, tapi mengesampingkan kualitas dan kecepatan dari tanda tangan. Motif tindakan dari para forger amatir ini adalah mencari keuntungan ekonomi, namun tindakannya tidak dilakukan secara teroganisir dan tidak terlatih seperti para profesional forger. Forger amatir seperti ini banyak ditemukan pada kasus pemalsuan tanda tangan di ranah perbankan

3. Tipe ketiga, yaitu opportunist forger, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan para forger amatir. Hanya saja, forger amatir melakukan pemalsuan karena memang sudah ada niat sejak awal untuk melakukan tindak kejahatan. Sedangkan forger oportunis, melakukan pemalsuan karena ada situasi yang secara tidak sengaja dapat menguntungkan mereka. Mungkin awalnya mereka tidak berniat melakukan kejahatan, namun karena ada situasi tertentu, akhirnya mereka terdorong untuk memalsukan tanda tangan supaya mendapatkan keuntungan. Umumnya pelaku dalam kasus seperti ini terjadi dalam ranah hubungan keluarga ataupun hubungan kerja. Contohnya dalam kasus surat wasiat yang melibatkan sejumlah nama dalam suatu keluarga besar. Seringkali  ada salah satu anggota keluarga yang berani memalsukan tanda tangan dalam surat wasiat, karena ia melihat lemahnya posisi anggota keluarga lain dalam hak warisnya. Situasi seperti ini kemudian dimanfaatkan olehnya untuk memalsukan tanda tangan pemberi waris, agar seluruh warisan berada di tangannya. Namun, para forger oportunis tidak hanya bisa terjadi dalam ranah hubungan keluarga. Dalam ranah hubungan pekerjaan juga seringkali terjadi, terutama yang berkaitan dengan surat kuasa dan surat perintah. Dari segi motif, forger oportunis ini ingin memanfaatkan situasi yang ada untuk mencari keuntungan demi kepentingan pribadinya. Karena para forger oportunis ini biasanya tidak pernah memalsukan tanda tangan sebelumnya, maka kualitas imitasi tanda tangan yang mereka hasilkan pun akan seburuk para forger amatir. Imitasi tanda tangan mereka hanya akan mengutamakan bentuk yang semirip mungkin, sehingga akan membuatnya secara perlahan karena adanya keragu raguan. Pembuatan tanda tangan yang perlahan, tentu akan menghasilkan kualitas garis yang lebih buruk dibanding tanda tangan asli yang dibuat secara cepat dan yakin.

(Putro Perdana, 2012)

Leave a comment

October 18, 2012 · 2:04 pm

Comments are closed.