Menganalisa Kebohongan Lewat Tulisan (Bagian I)

lie

Berbohong merupakan suatu tindakan yang seringkali dilakukan manusia untuk memanipulasi ataupun menghilangkan kebenaran suatu cerita. Dalam proses komunikasi, sebenarnya apa yang diceritakan secara verbal hanya mewakili 30% saja. Sedangkan 70% lainnya akan lebih terlihat dari gestur atau gerak tubuhnya ketika sedang bercerita. Gestur gestur ini disebut juga sebagai komunikasi non-verbal. Seseorang akan lebih mudah  memanipulasi perkataannya dibanding memanipulasi gestur alaminya. Itulah kenapa ketika mencurigai orang sedang berbohong, jangan perhatikan ceritanya saja, tapi juga perhatikan gesturnya.

Tulisan tangan merupakan bagian dari gerak motorik tubuh seseorang. Sebagaimana halnya gerak tubuh atau gestur, tulisan tangan juga ternyata dapat dianalisa. Ketika seseorang berbohong, maka gerak tubuhnya pasti akan berubah. Gerakan dan tindakannya menjadi tidak alami lagi. Misalkan ia biasanya sehari hari kalau bercerita bisa secara lancar, namun ketika sedang menceritakan alibinya malah jadi terbata bata. Hal ini disebut juga sebagai ketidak-alamian tindakan atau unnatural behavior. Ketidak-alamian ini, selain terlihat dari gerak tubuh, juga terlihat dari tulisan tangan seseorang. Tulisan tangan juga merupakan gerak tubuh, karena keduanya melibatkan saraf motorik dalam prosesnya. Sama seperti gerak tubuh, seseorang biasanya bisa menulis secara lancar pada saat menceritakan film favoritnya. Namun ketika ia diminta menuliskan tentang alibinya ketika suatu kejahatan terjadi, tulisannya menjadi tidak spontan dan banyak tanda tanda yang mencurigakan. Sehingga, ketika seseorang berbohong di dalam tulisan yang dibuatnya, maka akan terlihat tanda tandanya. Tanda tanda yang akan muncul misalnya adalah:  Hilangnya bagian bagian huruf yang menyebabkan tulisan tidak terbaca. Hal ini disebabkan karena penulis mencoba untuk melupakan informasi informasi yang berkaitan dengan informasi penting. Tanda lain yang  juga akan muncul adalah perubahan kemiringan tulisan yang cukup sering. Perubahan ini menunjukkan adanya konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar penulis ketika menuliskan pernyataan tersebut. Teknik ini akan sangat berguna ketika kita menghadapi kasus kasus kejahatan, untuk proses interograsi misalnya. Dari alibi atau keterangan yang ditulis oleh tersangka, akan dapat dianalisa apakah alibi tersebut ditulis secara apa adanya, atau justru dibuat buat untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.

 

Manfaat dan Aplikasi Dalam Ranah Kriminalistik

Metode analisa kebohongan melalui grafologi ini dapat digunakan untuk mengungkap berbagai jenis kasus kejahatan, baik kasus yang bersifat violent (pembunuhan, terorisme) ataupun kasus non-violent (penipuan, penggelapan, korupsi). Selain itu, dengan penerapan metode ini, waktu yang dibutuhkan untuk menggali informasi dan menguji kebenaran informasi dari tersangka dapat dipersingkat. Dengan metode ini, tersangka akan diminta menulis mengenai hal hal yang ingin diketahui oleh penyidik, seperti kronologi peristiwa, alibi yang tersangka miliki, saksi lain yang diketahui , dan hal lain yang bisa dinyatakan oleh tersangka. Melalui analisis tersebut, akan dapat diketahui apakah keterangan tersangka tersebut benar adanya (jujur) atau telah dimanipulasi. Prinsipnya adalah, mintalah para tersangka menuliskan segala keterangan dan pembelaannya dengan tulisan tangan. Selain tulisan tersebut bisa menjadi bukti fisik, juga bisa dianalisa kebenarannya melalui grafologi.

 

Sudahkah Teknik Ini Terbukti Secara Ilmiah?

Prinsip grafologi menjelaskan bahwa apabila ada manipulasi yang dilakukan dalam proses menulis (misalnya berbohong) akan terlihat melalui hasil tulisan yang berbeda dengan tulisan yang tidak dimanipulasi. Hal ini disebabkan pertentangan dari alam bawah sadar (subconscious) yang menolak untuk menuliskan hal tersebut secara sadar (conscious). Institute of Graphological Sciences Research Group and the Coordinating Committee of Studies in Psychological Analysis of Handwriting, telah melakukan penelitian pada penilaian lebih lanjut tentang pendeteksi ketidak jujuran melalui grafologi milik Dr Francisco Viñals Carrera, serta telah mengkonfirmasi temuan awal miliknya. Penilaian ini dilakukan oleh Patricia Sarria dan beberapa rekannya dari Cordoba dan Madrid, seperti Prof Juan Palma. Profesor Viñals telah menerapkan tes ini pada kehidupan nyata sebanyak lebih dari 200 kali, yang dilakukan pada kelompok antara tiga dan empat puluh orang, sekurang-kurangnya dua minggu setelah kejahatan itu dilakukan, dengan izin dari individu-individu yang diuji, dan menggunakan teks yang telah dirancang dan dikirimkan oleh Prof. Viñals sendiri. Dalam hampir sembilan puluh persen dari kasus, penulis dari kejahatan tersebut berhasil ditemukan, dan pada sepuluh persen sisa kasus, ada kemungkinan bahwa penulis kejahatan tidak hadir dalam grup tersebut, sebagaimana direktur itu sendiri bersaksi. (The Institute of Graphological Sciences, 2006).

Mengutip hasil penelitian pada Jurnal yang berjudul “Handwriting-based Tool Offers Alternate Lie Detection Method” yang diterbitkan pada Journal Applied Cognitive Psychology vol 24, tahun 2009, para peneliti menemukan bahwa karakteristik tulisan tangan dapat dibedakan ketika seorang individu, dalam proses penulisan, berusaha untuk menutupi pernyataan tertulis yang sebenarnya. Instrument tulisan tangan mempunyai potensial untuk menggantikan, atau melengkapi, pendeteksi ketidakjujuran melalui pernyataan verbal seperti polygraph, agar dapat menghasilkan akurasi yang lebih tinggi dan objektivitas dalam pendeteksian ketidakjujuran di ranah penegakan hukum. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa grafologi untuk pendeteksi ketidakjujuran  dapat menjadi alternatif solusi selain alat polygraph yang sudah umum. Hal ini juga diungkapkan oleh Mustofa (2007) yang menyebutkan bahwa dalam kriminalistik, di dalamnya, terdapat metode grafologi.

Saya akan menjelaskan mengenai teknik dan metode aplikatif cara menganalisanya pada artikel berikutnya.

(Putro Perdana, 2013)

Leave a comment

Filed under Graphology in Crime

Comments are closed.