Menganalisa Kebohongan Lewat Tulisan (Bagian 2)

Image

Serial TV Lie to Me, saat  ini sedang ramai diperbincangkan oleh beberapa pemerhati masalah kriminal karena metode investigasi yang digunakan dalam film ini. Dalam film Lie to Me, diceritakan bahwa para investigatornya mampu menganalisa kebohongan lewat expresi mikro atau micro-expression. Walaupun film ini yang dibuat secara fiksi, namun teori teori tentang micro-expression tersebut benar benar telah terbukti secara nyata di lapangan.

Dalam grafologi, saya menemukan bahwa kebohongan itu, selain bisa terlihat dari expresi wajah dan gerak tubuh, juga ternyata bisa terlihat melalui tulisan tangan.

Menganalisa kebohongan melalui tulisan tangan, tentunya akan sangat berguna di dunia kriminalistik. Sebagaimana juga diungkapkan oleh Mustofa (2007) yang menyebutkan bahwa dalam kriminalistik, di dalamnya, terdapat metode grafologi. Seperti yang telah saya tulis di bagian I, bahwa ketika seseorang berbohong akan muncul tanda tanda unnatural behavior atau ketidak alamian perilaku. Dari ketidak alamian perilaku ini, kita akan dapat membedakan mana keterangan yang ditulis secara jujur, dan mana yang telah dimanipulasi.

Perlu diperhatikan, bahwa untuk menyimpulkan apakah suatu tulisan itu ditulis secara jujur atau sudah dimanipulasi, tidak bisa ditentukan dari 1 indikator saja (Karohs, 2003). Namun perlu dianalisa keseluruhan tulisan, dan dicari juga indikator indikator lainnya. Hal ini supaya tidak berdampak pada pengambilan kesimpulan yang salah. Keseluruhan indikator yang muncul, harus saling dikonfirmasi dan dievaluasi.

Untuk mendekteksi ketidakjujuran dalam suatu tulisan tangan, menurut Dwikardana (2010) terdapat beberapa kejanggalan yang mencirikan ketidakjujuran seseorang yang sedang berbohong ketika menulis, yakni:

1. Beberapa kalimat yang ditulis dengan kecepatan yang pelan. Apabila dalam beberapa kalimat tertentu terlihat adanya perubahan kecepatan tulisan, menunjukan penulis berhati hati dan memperhitungkan respon dari apa yang akan dituliskannya.

2. Tulisan yang berantakan dan tidak terbaca, menandakan bahwa penulis tidak berusaha mengkomunikasikan pikirannya secara jelas, ataupun sedang memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Perbaikan huruf huruf atau coretan yang cukup sering terjadi menunjukan penulis dalam keadaan gelisah dan mencoba untuk memberi kesan baik dengan memperbaiki setiap kesalahan yang terjadi akibat kegelisahannya.

Contoh:

Image

3. Garis dasar tulisan yang bervariasi, menunjukan bahwa adanya emosi yang berubah ubah pada saat tulisan dibuat. Perhatikan pada kata kata apa saja garis dasarnya naik atau turun secara signifikan, karena biasanya disaat itulah penulis merasakan gejolak emosi.

Contoh:

Image

4. Kesalahan penulisan yang terus menerus, hal ini disebabkan karena penulis dalam keadaan gelisah, sehingga pada saat ia menulis, ia memikirkan sesuatu yang lain.

Contoh:

Image

5. Ukuran huruf yang berubah, menunjukan penulis sedang menambahkan konsentrasi untuk baris atau kata tertentu. Ukuran yang semakin besar pada huruf tertentu, menunjukkan penulisnya kehilangan fokus pada kata tersebut. Sedangkan ukuran yang mengecil pada huruf tertentu, menunjukkan penulisnya berusaha untuk lebih berkonsentrasi pada kata tersebut.

Contoh:

Image

6. Bentuk huruf yang berbeda beda, menunjukkan ketidakstabilan emosi dan pemikiran dari penulis yang bersangkutan.

Contoh:

Image

7. Penggunaan tanda baca yang tidak wajar, seperti titik atau koma yang dibuat berlebihan, biasanya disebabkan karena menulis meletakkan ballpointnya ketika sedang merasa ragu dengan apa yang ia tuliskan.

8. Hilangnya bagian bagian huruf yang menyebabkan tulisan tidak terbaca. Serta Hhlangnya beberapa huruf dalam kata kata yang penting. Hal ini menandakan ada upaya untuk mengalihkan perhatian dari kata kata yang dianggapnya penting, karena enggan untuk memberikan informasi yang jelas.

Contoh:

Image

9. Jarak antar kata yang tidak stabil. Menunjukkan penulis tidak spontan dalam menulis sehingga memerlukan banyak waktu untuk berpikir, dan hal tersebut menyebabkan jarak antar spasi yang tidak teratur.

Contoh:

Image

10. Perubahan kemiringan tulisan yang cukup sering, menunjukkan adanya konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar penulis ketika menuliskan pernyataan tersebut.

Contoh:

Image

Dari beberapa kejanggalan diatas, dapat diidentifikasi kejujuran suatu informasi yang ditulis oleh tersangka. Apabila terdapat banyak sekali kejanggalan yang muncul, maka besar kemungkinan pernyataan yang ditulis adalah informasi yang tidak jujur maupun sudah dimanipulasi. Melalui pernyataan tertulis tersebut, selain dapat  memperoleh keterangan tertulis yang bisa  diajukan pada saat proses pengadilan, juga dapat digunakan untuk menekankan pertanyaan kepada tersangka, terkait dengan kejanggalan yang muncul pada pernyataan tersebut.

(Putro Perdana, 2013)

Sumber Referensi:

1. Erika M. Karohs, Ph. D., Ed. D. 2003. How to Tell (Dis)Honesty From Handwriting Pebble Beach, California

2. Dwikardana, Sapta. 2010. Graphology: the Basic Course. Authentic School of Graphology Training, Consulting, & Counseling Service. Tidak Diterbitkan.

3.  Mustofa, Muhammad. 2007. Kriminologi: Kajian Sosiologi terhadap Kriminalitas, Perilaku Menyimpang, dan Pelanggaran Hukum. Depok: FISIP UI Press.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Comments are closed.