Grafologi, Grafonomi, dan Handwriting Forensic

Dalam beberapa diskusi tentang grafologi, seringkali muncul pertanyaan “apakah ilmu Handwriting Forensic sama dengan grafologi?”. Kedua ini ilmu ini pada dasarnya adalah disiplin ilmu yang sedikit berbeda, namun memiliki kesamaan. Dalam ilmu tentang tulisan tangan atau Handwriting Analysis itu sendiri, dikenal 3 cabang disiplin ilmu, yaitu Grafologi, Grafonomi, dan Handwriting Forensic.. Masing masing cabang ilmu memiliki perbedaan, meskipun dalam prakteknya menggunakan objek yang sama, yaitu sebuah dokumen atau tulisan.

Image

1. Grafologi

Grafologi adalah sebuah studi untuk mengungkap kepribadian dan karakter seseorang berdasarkan tulisan tangannya. Grafologi merupakan bagian kecil dari Handwriting Forensic, dan sebaiknya tidak disamakan antara satu sama lainnya (Allan Jamieson, 2009:278).  Kata Grafologi itu sendiri memiliki definisi sebagai studi tentang kepribadian seseorang melalui tulisan tangannya. Perlu diperhatikan bawa analisis ilmiah yang dilakukan oleh seorang ahli tulisan, merupakan suatu hal berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan oleh graphologist. Seorang graphologist dalam pekerjaannya ketika menganalisis tulisan, bertujuan untuk menemukan informasi mengenai sifat, kepribadian, dan karakter penulisnya. (Andrew R.W Jackson, 2011:347).

Di Indonesia, grafologi sudah cukup berkembang penggunaannya. Mulai dari untuk keperluan recruitment, hingga untuk masalah investigasi kejahatan. Mabes Polri sendiri pernah mengemukakan untuk menggunakan grafologi sebagai salah satu alat tes dalam izin penggunaan senjata api. Berita lengkap tentang hal itu bisa dibaca disini: http://bit.ly/Z4YLQm.

Grafologi lebih mengkhususkan pada analisa psikologi dalam tulisan tangan. Sehingga, ahli ahli grafologi biasanya dapat diminta untuk membantu investigasi kasus kejahatan. Analisa grafologi akan sangat berguna dalam analisa surat bunuh diri. Seorang ahli grafologi akan dapat mengetahui faktor psikologis apakah yang membuat korban tertekan hingga melakukan tindakan bunuh diri. Selain itu, ahli grafologi juga dapat menggunakan kemampuannya untuk menganalisa kebohongan dalam suatu pernyataan tertulis. Teknik ini disebut juga handwriting lie detection, yang telah saya tulis di artikel sebelumnya.

 2. Grafonomi

Menurut Amri Kamil dalam bukunya “Mengenal dan Mempelajari Anatomi Grafonomi Berkatian dengan Kejahatan Pemalsuan Dokumen”, Grafonomi adalah suatu ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari dari goresan-goresan tulisan dalam sebuah tanda tangan. Grafonomi berasal dari kata grafis dan nomi, yang berarti pengetahuan tulisan, sehingga hasil goresan setiap individu dapat dipelajari secara ilmiah berdasarkan karakteristik tulisan/goresan yang ada. (Kamil: 2007)

Grafonomi mengkhususkan diri pada identifikasi tanda-tangan, tulisan tangan, tulisan ketik, cap stempel, barang cetakan/blanko, isi dokumen, dokumen secara keseluruhan. Kriteria karakter tulisan yang dipelajari dari Grafonomi adalah tarikan, tekanan, kelancaran, halus kasar, tempat perubahan arah tarikan, tarikan akhir, kebiasaan dan aksesorinya.

Dari definisi dan ruang lingkup (cakupan) Grafonomi, maka ilmu ini hanya mengungkap originalitas dari suatu dokumen dan aksesori / tambahan yang ada didalamnya.

Di Indonesia, teknik grafonomi ini digunakan secara intensif oleh Laboraturium Forensik Mabes Polri. Grafonomi seringkali digunakan oleh kepolisian untuk menganalisa kasus dugaan pemalsuan tanda tangan. Salah satu tokoh dalam bidang grafonomi di kepolisian adalah Kombes Pol. Amri Kamil yang telah menuliskan beberapa buku tentang bidang ini.

Image

3. Handwriting Forensic

Istilah Forensic memiliki arti sederhana, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum. Handwriting Forensic sebagai bidang studi ilmiah yang mengidentifikasi pemalsuan dan mengungkap kisah asli (original) dari dokumen yang menjadi objek sengketa di pengadilan.

Dalam prakteknya, Handwriting Forensic mengkombinasikan ilmu Grafologi dan Grafonomi dalam menangani kasus kejahatan. Ilmu Grafologi dipergunakan khususnya dalam mengemukakan adanya atau kecenderungan dari penulis untuk melakukan perbuatan menyimpang (fraud). Biasanya hal yang dapat diungkapkan adalah: identifikasi mengenai apakah seseorang memiliki kecenderungan menggunakan obat-obatan, apakah seseorang memanipulasi suatu kejadian tertentu, dan masih banyak lagi. Sedangkan ilmu Grafonomi lebih banyak digunakan untuk mengidentifikasi pemalsuan suatu dokumen (forgery).

Menurut Koppenhaver, dalam bukunya “Attorney’s Guide to Document Examination”, Handwriting forensic memiliki beberapa fungsi yaitu:

  • Mengungkap penulis atau pencipta dari suatu dokumen
  • Menganalisis originalitas dari suatu dokumen
  • Jumlah orang yang membuat suatu dokumen
  • Menganalisis apakah sebuah dokumen pernah diubah
  • Tipe alat atau instrumen yang digunakan dalam membuat sebuah dokumen atau tulisan

Dari penjelasan tentang ketiga cabang ilmu tersebut, dapat dilihat bahwa sebenarnya antara satu sama lain masih memiliki benang merah. Karena pada dasarnya ketiga cabang ilmu tersebut merupakan bagian dari Ilmu Handwriting Analysis. Hanya saja terkadang penggunaannya dalam lingkup bidang yang berbeda. Grafologi lebih banyak dipakai di bidang psikologi. Grafonomi dan Handwriting forensic lebih dikembangkan di bidang investigasi kejahatan.

(Putro Perdana, 2013)

.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Comments are closed.